Selasa, 15 Mei 2012

Intropeksi Diri


Intropeksi diri adalah melihat ke dalam diri sendiri. Intropeksi diri sangat penting agar kita tahu bagaimana diri kita di pandang atau di nilai oleh orang lain.

 

Cara Intropeksi Diri :

  1. Minta bantuan orang lain, baik itu keluarga, teman deket, maupun sahabat
  2. jangan marah apabila mereka mengoreksi kita dengan jujur
  3. Mau berubah untuk memperbaiki diri
  4. Serius untuk intropeksi diri, jangan hanya di hati saja. Lakukanlah !

 

Dengan intropeksi diri kita bisa tau apakah kita sudah melakukan sesuatu, melakukan perubahan yang lebih baik pada diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan. Tetapi bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki diri sendiri.


^_^ Semoga Bermanfaat ^_^ 

Meneladani Akhlak Rasulullah Saw.


  1. Rasulullah mudah tersenyum
    Abdullah bin Harits r.a. mengungkapkan, "Aku belum pernah melihat ada orang yang lebih sering tersenyum dibandingkan Rasulullah Saw." (HR. Tirmidzi)
  2. Rasulullah tidak pernah membentak pembantunya
    Anas bin Malik mengungkapkan, bahwa ia melayani Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Lalu katanya, "Demi Allah, beliau sama sekali tidak pernah berkata : 'husy'. Beliau juga tidak pernah menegur 'mengapa engkau berbuat begitu?' atau 'kenapa tidak berbuat demikian?" (HR. Muslim)
  3. Nabi Saw. tidak pernah mencela makanan
    Abu Hurairah r.a. mengabarkan, bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah mencela makanan. Apabila suka, beliau memakannya. Sebaliknya jika tidak suka, beliau membiarkannya saja. (HR. Bukhari)
  4. Anjuran menerima pemberian orang lain
    "Barang siapa yang diberi sesuatu tanpa meminta, hendaklah ia menerimanya. Karena itu adalah rezeki yang diberikan Allah Swt. kepadanya." (HR. Ahmad)
  5. Sujud syukur bila mendapat kegembiraan
    "Apabila memperoleh sesuatu yang menggembirakan atau mendengar kabar gembira, Rasulullah Saw. langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Swt." (HR. Abu Dawud)
  6. Rasulullah selalu membantu Istrinya
    Seseorang pernah bertanya kepada Siti Aisyah r.a., "Apakah yang diperbuat Rasulullah Saw. di rumah?" Beliau mengerjakan pekerjaan keluarganya. Jika waktu shalat tiba, beliau mengambil air wudhu kemudian keluar (ke masjid) untuk menunaikan shalat." (HR. Muslim)

Rabu, 04 Januari 2012

Muslim Excellent : Think Fast!

Berpikir memang baik. Makin banyak berpikir, makin baik. Dengan banyak berpikir kita banyak tahu, keputusan kita bertambah bulat karena pertimbangan kita cukup lengkap. Belum lagi susunan otak kita akan terlatih, sehingga dendrit-dendrit di dalamnya akan menguat dan bertumbuh.
Dan begitulah seharusnya seorang Muslim. Saya ingat Pak Warsito seorang ilmuwan muslim asal Indonesia yang begitu dihargai di Jepang, saat ditanya apa yang menjadi hobi beliau, maka dengan singkat beliau akan menjawab : berpikir!
Namun sayang, banyak dari kita yang kurang suka berpikir. Dan ini miris. Apalagi jika mereka menyandang status akademis, seperti mahasiswa misalnya. Mahasiswa Ga doyan mikir? apa kata dunia! Dalam konteks yang lebih luas, umat Islam seringkali mendapat stigma kaum yang kurang berpikir.
Padahal dahulu umat ini begitu kaya akan ilmuwan-ilmuwan namanya terus mengharum di tengah kancah sejarah. Ibnu Rusy, Ibnu sinna, Ibnu Khaldun dan masih banyak nama-nama besar lain yang telah menciptakan karya besar melalui buah pikiran mereka.
Di sisi ekstrim yang lain banyak pula yang terlalu banyak berpikir. Intensitasnya sedikit lebay.Mereka keliru memaknai proses berpikir. Sedikit-sedikit mikir.
Psikolog Sian L. Beilock dari universitas Chicago pada 2008 meneliti tentang pengaruh kesempatan untuk berpikir yang diberikan kepada pegolf pemula dan pegolf profesional sebelum mereka diminta melakukan serangkaian pukulan. Pegolf pemula dianjurkan untuk mengambil waktu sebelum mulai, sedang kepada para professional dianjurkan untuk segera saja melakukannya. K
Ketika pegolf pemula diminta untuk melakukan lebih cepat, pukulan mereka menjadi kurang akurat, tapi pegolf profesional justru sebaliknya: mereka menunjukkan pukulan yang prima ketika diminta segera memukul dan goyah ketika disarankan untuk lebih dulu mengambil waktu.
Terlalu banyak berpikir memang banyak menggagalkan kegiatan yang memerlukan keahlian dan ketelitian; baik kegitan fisik maupun mental.
Anda dapat tersedak ketika berpidato didepan umum atau dalam seminar jika terlalu banyak berpikir untuk mencari kata-kata yang lebih tepat, salah menendang bola karena sibuk berpikir kearah pemain mana bola sebaiknya diberikan.
Atau gagal menerbitkan artikel karena terus-menerus dibaca ulang dan diperbaiki sampai akhirnya dibatalkan karena kecewa. Untuk yang ini, saya sendiri pernah jatuh bangun mengalaminya.
Begitulah. Terlalu banyak berpikir telah menggagalkan kreasi, menggangu inisiatif dan melemahkan motivasi, meskipun proses berpikir semula kita pahami sebagai mekanisme pertahanan untuk menghindari kegagalan.
Menurut sebuah artikel dalam Scientific American, mencoba berkonsentrasi untuk memantau kualitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja. Karena terlalu banyak berpikir bukan bawaan lahir dan terbukti berbahaya, dan sebaiknya dihindari.
Berhentilah menunggu kesempurnaan. Kerjakan saja niat yang sudah dipertimbangkan. Jangan terlalu banyak asumsi, tinggalkan teori, segera bertindak. Rasakan takut tapi tetap lakukan! Jangan biarkan rasa takut membajak potensi atau melumpuhkan hidup anda!
Memang ada masa dimana berpikir sangat diperlukan untuk mengambil serangkaian keputusan. Namun juga ada saat - saat dimana untuk sementara kita harus menarik tuas BLINK!- Yaitu saat dimana kita berpikir tanpa berpikir. Maksudnya?
Gladwell menjelaskan dalam penelitiannya, bahwa manusia hakikatnya mampu berpikir cepat, karena telah memiliki banyak informasi dan rekaman pengalaman yang siap untuk diakses dalam otaknya.
Semua itu dapat menjadi referensi. Hal ini senada dengan yang disampaikan Dan Plutarch, seorang pakar otak. Pikiran kita, ujar beliau bukanlah wadah yang harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan. Otak kita hanya perlu percikan kecil dan cepat untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang brilian.
Sadar tidak sadar, banyak dari kita sibuk berpikir, serta kuatir dalam mengemukakan gagasan. Kuatir salah, kuatir keliru, dan kuatir ini, itu. Padahal tak ada yang namanya gagasan salah, adapun gagasan yang salah, kata Einstein, adalah gagasan yang tidak disampaikan.
Banyak orang berpikir, nyatanya tak kunjung menghasilkan ide. Banyak orang memiliki ide, nyatanya tak kunjung berbuah aksi. Imbasnya, mereka dengan pikirannya tak pernah beranjak kemana-mana. Padahal jelas, bahwanothing action, Nothing happen!
Seorang Muslim sepatutnya mampu berpikir cepat, tajam, dan brilian. Ia mampu mencerna masalah, kemudian lekas mengambil keputusan. Ia problem solver, bukan problem maker. Dengan pikirannya, ia menjadi trendsetter, bukan follower.
Seorang muslim juga harus mampu belajar tepat, berpikir cepat, serta bertindak bijak. Dengan begitu tak ada lagi yang menyangsikan kualitas seorang muslim, karena kapasitas dan cara berpikirnya jauh di atas orang kebanyakan.
Hingga mereka menjadi sosok yang disebutkan Umar radhiallahu ‘anhu saat menaklukan Romawi, “Satu orang diantara mereka setara dengan seribu laki-laki.”


Berpikir? Yes!
Teralu banyak berpikir? NO!
:)
www.eramuslim.com

Senin, 02 Januari 2012

Wahai Ikhwah


Sejenak, marilah kita sama-sama renungkan tentang  karya-karya yang telah 
dihasilkan orang-orang mulia. Bagaimana kisah  Salman Al-Farisi, lelaki 
Persia dengan segala kemuliannya. Yang meskipun  hanya meninggalkan 
beberapa harta ketika meninggal masih saja menangis  karena merasa punya tanggung jawab yang besar kepada Allah swt. Atau  cobalah kita saksikan keyakinan yang begitu kuat yang dimiliki oleh  Khalid bin Walid bahwa 
Allah akan membantunya, dan dengan tenang  menerima tantangan meminum 
minuman beracun dari pasukan Romawi.

Merekalah orang-orang mulai yang begitu teguh keyakinannya kepada  Allah. Iman yang melekat 
di dalam diri mereka laksana darah yang  mengaliri semua bagian tubuh 
mereka, iman bagi mereka adalah harta  paling berharga, karena dia 
memberikan energi untuk bergerak, membongkar  kemalasan yang sering 
mendera, dan iman bagi mereka adalah sumber  kekuatan terbesar, 
terdahsyat, dan tak tergantikan oleh apapun.

Merekalah 
orang-orang mulia yang tercatat dalam sejarah bahwa  meninggalnya mereka selalu dalam keadaan syahid, bahwa kehidupan mereka  laksana air 
penyejuk bagi orang-orang di sekitar mereka, bahwa akhlaq  mereka begitu dekat dengan Al-Qur’an, bahwa keberanian mereka membela  agama Allah 
begitu membara di dalam jiwa.

Ya… Merekalah  orang-orang 
yang hatinya selalu terhimpun untuk berjuang di Jalan Allah.  Dengan 
bekal keimanan dan ketakwaan yang begitu kuat. Mereka mencapai  
kemuliaan hidup yang sangat sulit kita rasakan.

Saudaraku….

Keberhasilan meletakkan Allah di dalam diri mereka, adalah karena  usaha yang begitu keras untuk selalu dekat dengan-Nya. Mereka tidak lena  di malam hari, 
dibuai mimpi atau lebih memilih bersenang-senang dengan  istri-istri 
mereka, mereka tidak pernah takut jika harus mengorbankan  jiwa dan raga mereka untuk agama Allah, mereka orang yang selalu  bersemangat tatkala masa jihad telah tiba. Karena saatnya mereka  membuktikan kecintaan dan keimanan mereka kepada Allah swt.

Lalu…
Mari kita bandingkan diri-diri kita dengan mereka.
Coba kita tengok berapa lama kita habiskan waktu kita untuk mengingat  mati?
Berapa lama kita habiskan untuk men-tadabburi  ayat-ayat-Nya?
Berapa lama kita memeras keringat untuk  menguatkan jalan dakwah ini?
Berapa lama wahai ikhwah?
Berapa lama

Betapa jauh….
Betapa jauh jika kita  bandingkan dengan pengorbanan mereka.
Betapa kita sering  berkeluh kesah, marah, kecewa, benci, bahkan kata-kata tak sanggup  mengemban amanah dakwah ini begitu sering terucap.
Lantas jika  mental ini dimiliki oleh seorang ikhwah kapan kita bisa membangun  bangsa?
Kapan kita bisa merubah peradaban ummat?
Kapan  wahai ikhwah?
Kapan?

Menunggu kalian berhenti  menyelesaikan permainan game di depan komputer?
Menunggu kalian  siap untuk menjadi Murabbi?
Menunggu kalian selesai tidur  setelah subuh untuk datang syura?
Menunggu dan menunggu?
Itu yang ingin kalian katakan wahai ikhwah?

Wahai  ikhwah?
Hari ini…
Sudahkah kita ingat seberapa  besar amal yang kita kerjakan?
Sudah berapa lembarkah tilawah  kita?
Masihkah sujud di malam hari kita kerjakan?
Masihkah kita mengingat bahwa lapar di siang hari adalah energi bagi  jiwa-jiwa para da’i?
Masihkah kita merenung bahwa bekal yang  paling baik adalah iman dan takwa?
Masihkah dan masihkah wahai  Ikhwah ?

Wahai ikhwah….
Sudahkah diskusi-diskusi  keseharian kita bermuatan ilmu dan saling nasihat-menasihati ?
Sudahkah cerita-cerita kita berujung kepada perbaikan diri-diri kita ?
Sudahkah forum-forum syura kita menghasilkan kerja-kerja dakwah  yang menggerakkan ?
Sudahkah wahai ikhwah ?
Sudahkah ?

Mari kita bertanya..
Jika saat ini, masih saja  banyak kader yang lemah, masih saja dakwah ini 
tersendat-sendat, mari  kita bertanya ke dalam diri kita..
Sudah dekatkah kita  dengan-Nya ?
Sedangkan DIA adalah Zat Pemberi Kemenangan.
Sudah kuatkah amalan-amalan kita kepada-Nya ?
Sedangkan ia  adalah senjata orang-orang yang mulia
Sudah seberapa jauhkah  kita membuat tubuh ini letih bekerja di jalan-Nya ?
Sedangkan  keletihan senantiasa melahirkan getar-getar iman yang mendalam..
Jika belum..
Mari sama-sama kita renungkan..
Keep Hamasah..
Allah mencintaimu…


Sumber : Dakwatuna.com

Minggu, 25 Desember 2011

Bersama ROHIS, Kutetapkan Yakinku




 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat-sahabat Kerohanian Islam atau sering dikenal ROHIS di seluruh Indonesia, baik tingkat menengah ataupun atas, semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam jalan kalian, dalam keikutsertaan kalian baik aktif ataupun pasif.
Saya hanya ingin sedikit sharing dengan kalian, tentang ROHIS ini, tentang pengalaman, tentang cerita suka dan duka, tentang manfaat teman-teman bergabung dengan ROHIS.


ROHIS, sebuah lembaga yang telah membesarkanku, mendidik dan mengajarkan tentang berbagai hal.
ROHIS merupakan satu lembaga ekstrakurikuler yang lengkap menurut pandangan saya,
ia mengajarkan untuk berorganisasi,
ia mengajarkan untuk dakwah dan ibadah,
ia mengajarkan untuk membina lingkungan sekolah,
ia mengajarkan untuk perencanaan kegiatan,
ia mengajarkan untuk komunikasi efektif,
ia mengajarkan untuk olahraga dan pendidikan jasmani,
ia mengajarkan untuk berjiwa sosial kemasyarakatan,
ia mengajarkan untuk menjadi pemimpin sejati,
ia mengajarkan segala hal yang kita butuhkan dan segala hal yang tidak kita butuhkan tapi bermanfaat untuk kita.




Namun satu hal yang tidak akan ditemui di ekskul manapun adalah ROHIS bisa menjadi jalan Hidayah bagi siapa pun termasuk pengurus dan anggotanya. inilah yang akan kita bahas teman-teman.
Jalan kebaikan, jalan petunjuk dan jalan hidayah, insya Allah.
Meskipun kita tidak merasakannya ketika aktif di ROHIS, tidak merasakan seketika itu juga, tapi yakinlah, suatu saat, kita akan menemukan sentuhan tersembunyi yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini.
Mungkin ketika kuliah, atau setelah kerja, atau bahkan ketika tua renta, kita baru teringat, bahwa awal mula kita mengenal tarbiyah islamiyah (pembinaan Islam) adalah di ROHIS ini.


Awal yang mengubah emosi jiwa menjadi jiwa yang teduh penuh cinta,
mengubah dosa menjadi amal pahala,
mengubah rasa takut menjadi berani penuh semangat,
mengubah cara pandang negatif menjadi positif,
Semua mungkin berawal dari sini, dari ROHIS ini.
Oleh karena itu, saya hanya ingin berpesan, siapa pun kita, apapun latar belakang kita, semaksiat-maksiatnya kita, jangan sampai kita meninggalkan organisasi ini, karena ia adalah jalan yang Allah sediakan, untuk membuka hati, membuka emosi, membuka jalan hidayahNya.


Jalan yang menghadirkan pelaku-pelaku kebaikan,
jalan ukhuwah dan kebersamaan yang erat menyatukan semua potensi kejujuran,
jalan yang suatu saat akan membuat kita sadar, bahwa di sinilah kita dibesarkan,
dengan segudang masalah,


Tetaplah berada bersama para pelaku kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan mengikutimu,
dan akan mengubah paradigmamu,
bahkan mengubah maksiat-maksiatmu,
Yakin dan tetapkan tekadmu,
inilah jalan terbaik untuk masa depanmu,
bersama ROHIS, aku tetapkan yakinku.




Untuk sahabat ROHIS di seluruh Indonesia, para alumninya,




mari kita bersama menjadi penerus peradaban,
yang melahirkan generasi-generasi rabbani,
mari kita sambut seruan yang mulia,
mari bersama ikuti langkah perjuangan,
di medan dakwah sekolah kita tercinta.

Green Ice Cream Bar